BERITA PARTNER
BRO HITS

Recent Posts

Logika Anggaran vs. Logika Berkarya: Sebuah Pertandingan yang Tidak Seimbang

Jumat, 03 April 2026


NOI, Di negeri ini, perlindungan itu ada. Sungguh ada. Jangan ragukan itu.

Hanya saja, untuk mendapatkannya, kamu perlu tahu dulu bahwa ia ada. Kemudian kamu perlu tahu di mana ia berada. Lalu kamu perlu tahu bagaimana cara mengaksesnya. Dan setelah semua itu kamu ketahui, barulah perlindungan itu akan datang menjemputmu — dengan ramah, dengan hangat, dengan sepenuh hati.

Sayangnya, tidak ada yang memberitahu Amsal Sitepu soal itu.

Maka ia pun menjalani 131 hari di dalam tahanan. Bukan karena ia bersalah — pengadilan kemudian membuktikan ia tidak bersalah. Bukan karena pekerjaannya buruk — video profil desa yang ia kerjakan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu selesai dengan baik. Ia mendekam selama 131 hari semata-mata karena ia tidak tahu. Dan rupanya, di negeri ini, ketidaktahuan adalah kemewahan yang tidak semua orang mampu menanggung biayanya.

Sistem yang Sempurna, untuk Mereka yang Sudah Tahu

Kita harus adil menilai keadaan ini.

Pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Ekonomi Kreatif berdiri megah di Autograph Tower Thamrin Nine — sebuah gedung yang namanya saja sudah terdengar seperti tempat di mana masalah-masalah besar diselesaikan dengan elegan di atas meja kopi arabika single origin. Di sana, berbagai layanan pendampingan hukum dan kanal pengaduan telah disiapkan dengan serius, dengan penuh dedikasi, dan dengan anggaran yang — mari kita asumsikan — tidak sedikit.

Semua itu ada. Tersedia. Siap digunakan.

Tinggal satu syarat kecil yang harus dipenuhi: kamu harus tahu bahwa itu ada.

Amsal tidak tahu. Ribuan kreator lain di seluruh pelosok negeri kemungkinan besar juga tidak tahu. Tapi itu bukan masalah sistem, tentu saja. Itu masalah mereka yang tidak cukup rajin mencari informasi. Seperti kata Amsal sendiri — dengan kebesaran hati yang luar biasa setelah 131 hari mendekam — para pelaku kreatif harus lebih aktif, jangan hanya fokus pada karya.

Betul sekali. Sambil mengedit video, menyusun storyboard, bernegosiasi dengan klien, mengejar tenggat, dan mencoba bertahan hidup dari honorarium yang sering kali dibayar terlambat — sempatkanlah sejenak untuk membuka website kementerian dan mempelajari mekanisme perlindungan hukum yang tersedia. Itu bukan permintaan yang berlebihan, bukan?

Mari kita bicara soal inti perkaranya.

Amsal dipersoalkan karena nilai anggaran produksi yang dianggap tidak sesuai. Di sinilah letak keindahan sistem kita yang luar biasa canggih itu: sebuah karya kreatif dinilai bukan berdasarkan kualitasnya, bukan berdasarkan apakah ia selesai atau tidak, bukan berdasarkan apakah tujuannya tercapai — melainkan berdasarkan apakah angka-angkanya cocok dengan tabel standar harga satuan yang disusun oleh orang-orang yang mungkin belum pernah sekalipun memegang kamera atau membuka software editing.

Ini bukan sindiran. Ini kenyataan yang sudah berlangsung lama dan belum ada yang cukup terganggu untuk mengubahnya secara serius.

Bayangkan seorang auditor yang menilai lukisan dengan kalkulator. Ia menghitung biaya kanvas, harga cat per mililiter, tarif per jam tukang, dan menyimpulkan bahwa harga lukisan itu seharusnya sekian ratus ribu rupiah. Ketika pelukisnya menyebutkan angka yang berbeda — karena ada nilai keahlian, proses kreatif, dan ruh yang tidak bisa dimasukkan dalam kolom spreadsheet — maka pelukis itu pun dicurigai. Mungkin ia korupsi. Mungkin ia markup. Mungkin ia tidak bisa mempertanggungjawabkan selisih angka yang ada.

Begitulah kira-kira yang terjadi pada Amsal. Dan begitulah yang bisa terjadi pada siapa saja di industri ini yang berani mengambil proyek pemerintah — sebuah tindakan yang dulunya dianggap sebagai bentuk pengabdian, kini terasa lebih mirip berjalan di atas ladang ranjau dengan mata tertutup.

Sosialisasi ala Bisik-Bisik Tetangga

Setelah kasusnya selesai, Amsal akhirnya bertemu Menteri Ekonomi Kreatif. Sebuah pertemuan yang hangat, penuh harapan, dan — kita semua bisa merasakannya — agak terlambat.

Di sana ia baru mendengar tentang layanan-layanan yang seharusnya bisa menolongnya sejak awal. Kanal pengaduan. Pendampingan hukum. Fasilitas perlindungan bagi pelaku ekraf.

Sungguh informasi yang berguna. Amat sangat berguna. Terutama jika disampaikan sebelum seseorang menghabiskan 131 hari di tempat yang tidak ia pilih untuk berada di sana.

Tapi begitulah model sosialisasi yang selama ini berjalan di negeri kita yang tercinta. Informasi penting diumumkan dalam forum resmi yang dihadiri orang-orang yang sudah tidak terlalu membutuhkannya. Disebarkan melalui siaran pers yang dibaca oleh jurnalis dan pengamat kebijakan. Dipajang di website yang hanya dikunjungi oleh mereka yang sudah tahu bahwa website itu ada.

Sementara kreator-kreator yang bekerja di sudut-sudut kota kecil, yang mengerjakan proyek daerah dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab, terus melangkah dalam ketidaktahuan yang nyaman — nyaman bagi sistem, tidak nyaman bagi mereka ketika masalah datang.

Negara yang Hadir Tepat Waktu — Setelah Semuanya Selesai

Kementerian Ekonomi Kreatif menyatakan akan terus memperkuat sosialisasi dan pendampingan agar kasus seperti Amsal tidak terulang. Sebuah janji yang terdengar sungguh meyakinkan dan menghangatkan hati.

Tentu saja kita percaya. Kita selalu percaya.

Kita percaya seperti kita percaya bahwa lampu merah akan diperbaiki setelah ada korban kecelakaan. Kita percaya seperti kita percaya bahwa jembatan akan diperkuat setelah ada yang jatuh. Kita percaya seperti kita percaya bahwa sistem akan direformasi setelah ada wajah yang bisa dijadikan contoh dalam pidato-pidato resmi tentang pentingnya perlindungan kreator.

Amsal kini telah menjadi wajah itu. Selamat, Amsal — dengan cara yang paling tidak kamu inginkan, kamu telah berkontribusi pada perubahan yang mungkin akan dirasakan oleh orang lain jauh setelah kamu sendiri melupakannya.

Pesan untuk Para Pejuang Kreatif: Berkarya dengan Satu Mata Melirik Hukum

Amsal menutup kisahnya dengan pesan yang tulus dan mulia: jangan takut untuk berkarya.

Dan kita tidak meragukan ketulusannya. Seorang yang telah melalui 131 hari ujian berat dan masih bisa berdiri tegak menyemangati orang lain adalah sosok yang patut dihormati sepenuhnya.

Namun izinkan kita menambahkan catatan kecil di pinggir pesan itu — catatan yang mungkin lebih realistis untuk kondisi ekosistem kita hari ini.

Jangan takut untuk berkarya. Tapi pelajari dulu kontrakmu dengan seksama. Simpan semua bukti pekerjaanmu. Dokumentasikan setiap keputusan anggaran yang kamu buat. Cari tahu nama dan nomor telepon pendamping hukum sebelum kamu membutuhkannya. Pahami bahwa dalam proyek pemerintah, karya yang bagus saja tidak cukup untuk melindungimu — kamu juga butuh administrasi yang rapi, pengetahuan hukum yang memadai, dan sedikit keberuntungan bahwa auditormu pernah mengerti apa itu industri kreatif.

Setelah semua itu terpenuhi, barulah berkarya dengan tenang.

Mudah, bukan?

Epilog: 131 Hari yang Seharusnya Tidak Pernah Ada

Di akhir semua ini, ada satu kenyataan sederhana yang tidak bisa disatir, tidak bisa ditertawakan, dan tidak seharusnya kita biarkan menguap begitu saja dalam hiruk-pikuk berita yang terus berganti setiap harinya.

Seorang kreator yang tidak bersalah kehilangan 131 hari hidupnya.

Bukan karena sistemnya jahat. Bukan karena ada konspirasi besar yang dirancang untuk menghancurkannya. Melainkan karena ada jurang menganga antara layanan yang diklaim tersedia dan pengetahuan yang benar-benar sampai ke tangan mereka yang membutuhkannya. Karena ada ketimpangan antara kecepatan industri kreatif yang tumbuh dan kesiapan ekosistem hukum yang melindunginya. Karena ada terlalu banyak orang yang bertugas bicara tentang perlindungan kreator, namun terlalu sedikit yang benar-benar turun memastikan perlindungan itu terasa.

Negeri ini mengaku mencintai para kreatornya.

Sudah saatnya cinta itu dibuktikan — bukan dalam bentuk pertemuan hangat setelah 131 hari berlalu, melainkan dalam sistem yang bekerja bahkan sebelum kreatornya tahu bahwa ia sedang membutuhkan pertolongan.

Karena di negeri yang benar-benar melindungi kreatornya, tidak ada yang perlu belajar tentang haknya dari dalam sel tahanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar